Ahad, 26 September 2010

Kehidupan & Kehilangan


Assalammualaikum….

Hidup ini merupakan sebuah persinggahan….
Hari ini ,esok atau lusa,pasti kita akan meninggalkanya….
Hari ini aku menatap sebuah photo senior ku yang telah pulang kerahmatullah..
Bila mengingatkan semua itu ,kerisauan telah bertandang di benak ku….
Bagaimanakah agaknya jika kita yang pergi….
Pergi buat selamanya….
Namun kita juga tahu,ajal maut tu di tangan Tuhan….
Apa yang mampu kita lakukan hanyalah ;
Beribadat seperti esok telah tiada,
Berusaha bagaikan kita akan hidup untuk seribu tahun lagi diatas apa yang kita usahakan…
Insyaallah…
Al-fatihah untuk arwah sahabat saya Megat dan Kak finazs…

Jumaat, 19 Februari 2010

Belajar Ilmu Ikhlas



"Mari ku ajarkan mu tentang ikhlas," kata seorang guru kepada muridnya.
"Nanti saya ambilkan buku dan pena untuk menulisnya."
"Tak payah, bawa sahaja karung guni."
"Karung guni?" soal anak muridnya, seperti tidak percaya.
"Mari kita ke pasar!"


Dalam perjalanan ke pasar mereka berdua melalui jalan yang berbatu-batu.
"Kutip batu-batu yang besar dan masukkan ke dalam guni yang kau bawa itu," kata guru itu memberi arahan.
Tanpa soal, anak muridnya memasukkan batu-batu besar yang mereka temui sepanjang jalan.
"Cukup?"
"Belum, isi sampai penuh karung guni itu. Lebih banyak lebih baik."


Sampai di pasar, mereka berdua tidak membeli apa-apa pun. Gurunya hanya berlegar-legar, melihat-lihat dan kemudiannya mula beredar ke luar.
"Tok guru, kita tidak beli apa-apa kah?"
"Tidak. Bukankah karung guni mu telah penuh?"
"Ya, ya..." kata murid itu sambil memikul guni yang berat itu kelelahan.


"Banyak beli barang," tegur seorang kenalan apabila melihat anak murid itu memikul guni yang berisi penuh dengan batu-batu.
"Wah, tentu mereka berdua ini orang kaya. Banyak sungguh barang yang mereka beli," bisik orang lalu-lalang apabila melihat guru dan anak murid tersebut.
"Agaknya, mereka hendak buat kenduri dengan barang-barang yang banyak itu," kata orang yang lain.


Sampai sahaja di tempat tinggal mereka, murid tadi meletakkan guni yang berisi batu-batu tadi.
"Oh, letih sungguh... apa yang kita nak buat dengan batu-batu ni Tok?"
"Tak buat apa-apa."
"Eh, kalau begitu letih sahajalah saya," balas anak murid.
"Letih memang letih, tapi kamu dah belajar tentang ikhlas..."
"Bagaimana?" tanya anak murid itu kehairanan.

"Kamu dah belajar apa akibatnya tidak ikhlas dalam beramal.
"Dengan memikul batu-batu ini?"
"Ya. Batu-batu itu umpama amalan yang riyak. Tidak ikhlas. Orang memujinya seperti orang-orang di pasar tadi memuji banyaknya barang yang kamu beli. Tapi, kamu sendiri tahu itu bukan barang makanan atau keperluan tetapi hanya batu-batu..."
"Amal yang tidak ikhlas umpama batu-batu ini?"
"Ya, hanya beratnya sahaja yang terpaksa ditanggung. Dipuji orang, tetapi tidak ada nilainya di sisi Allah. Yang kamu dapat, hanya penat..."
"Ya, sekarang saya sudah faham apa akibat jika beramal tetapi tidak ikhlas!" ujar murid itu.
Sekarang dia sudah faham apa akibatnya RIYAK dalam beramal.



Pengajaran:

Ramai manusia tertipu dalam beramal kerana mengharapkan pujian orang. Padahal kata pujian daripada orang-orang itu tidak akan memberi manfaat pun kepadanya pada hari akhirat. Malah, mengharap pujian daripada manusia hanya akan menyebabkan diri terseksa kerana terpaksa hidup dalam keadaan yang bermuka-muka. Rugi benar orang yang tidak ikhlas, terseksa di dunia, terseksa di akhirat.

Source*:www.iluvislam.com
Oleh: Ustaz Pahrol Mohamad Juoi
Editor:NuurZaffan

Ahad, 24 Januari 2010

Sebuah Rintihan....


Ya Allah...

Kau ampunilah dosa semalam ku...
Sesungguhnya, ku sedar diri ini terlalu jauh menyimpang dari jalan Mu,
dari jalan yang Engkau redhai.
Namun, masih adakah ruang taubat untuk ku...

Ya Allah...

Sesungguhnya engkaulah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang...
Aku pasti, pintu taubat masih terbuka untuk ku.
Namun mampukah aku untuk meninggalkan masa silam ku?...

Ya Allah...

Aku hidup dengan kehendak Mu,
Dan aku akan mati juga dengan kehendak Mu.
Tetapi Ya Allah, berilah aku peluang untuk bertaubat kepada Mu
sebelum aku menghadap Mu kembali...

Ya Allah...

Mungkin semalam aku ego dengan kehidupan ku,
selalu sahaja mengeluh dengan apa yang terjadi.
Mungkin semalam aku terlupa Engkaulah Pencipta ku,
selalu sahaja meninggalkan suruhanMu.
Mungkin semalam aku lalai dari mengingati Mu,
selalu sahaja memikirkan hal-hal dunia.
Mungkin semalam aku terlanjur ,
mengingati manusia ciptaan Mu lebih dari mengingati Mu.
Terlalu banyak kemungkinan yang aku lakukan sehingga aku semakin jauh dari Mu, Ya Allah...

Ya Allah...

Kini aku sedar,siapa diri ini,
Tidak lebih dari seorang yang hina di sisi Mu Ya Allah, yang wujud dari setitis air mani yang hina...
Aku lupa Engkaulah Pencipta ku...
Aku lupa Enkaulah Ya Rabb ku...

Ya Allah...

Bukakanlah pintu taubat seluas-luasnya untuk ku...
sesungguhnya, hanya kepada Engkaulah aku bermohon dan aku menyembah...
Sesungguhnya, hanya kepada Engkaulah aku kan kembali...
Kembali meninggalkan dunia yang penuh pancaroba ini...

Ya Allah...

Terimalah taubat ku ini......

Aminnnn....

Isnin, 21 Disember 2009

4 Racun Hati ... (3)



Nafsu perut adalah termasuk perusak yang amat besar. Nafsu ini pula, yang
menyebabkan Adam dikeluarkan dari Surga. Dari nafsu perut pula, muncul nafsu
kemaluan dan kecenderungan kepada harta benda. Yang akhirnya disusul dengan
berbagai bencana yang banyak. Semua ini berasal dari kebiasaan memenuhi tuntutan
perut.

Sedikit makan itu melembutkan hati, menguatkan daya pikir, serta melemahkan hawa
nafsu dan sifat marah. Sedangkan banyak makan, akan mengakibatkan sebaliknya.

Allah berfirman :

"Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah
tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS Al-A'raf: 31)

Dari Miqdam bin Ma'di Karib berkata, Aku mendengar Rasulullah bersabda,

"Janganlah manusia memenuhi sebuah tempat yang lebih buruk dari
perutnya. Cukuplah bagi manusia beberapa suapa (tiga sampai sembilan),
untuk menegakkan tulang punggungnya. Jika tidak bisa, maka sepertiga
untuk makan, sepertiga untuk minum dan sepertiga untuk bernafas.(HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Al-Hakim, shahih)"

Ibnu Abbas berkata,

Allah menghalalkan makan dan minum, selama tidak berlebih-lebihan dan
tidak ada unsur kesombongan.

Berlebihan dalam makan, dapat mengakibatkan banyak hal buruk. Ia menggerakkan
anggota tubuh untuk melakukan maksiat, serta menjadikannya merasa berat untuk taat
dan ibadah. Cukuplah dua hal ini sebagai suatu keburukan.

Dari Utsman bin Za'idah berkata, Sufyan Ats-Tsauri berkirim surat kepadaku:

Apabila engkau ingin badanmu sehat dan ringan tidurmu, maka sedikitkanlah makanmu.

Sebagian salaf berujar,

Sebagian pemuda Bani Israil berta'abud (berpuasa sambil berkhalwat). Bila
telah datang masa berbuka, salah seorang dari mereka berkata, "Jangan
makan banyak-banyak, sehingga minum kalianpun banyak. Lalu tidur kalian
juga banyak, akhirnya kalian banyak merugi."

'Aisyah meriwayatkan, sejak masuk Madinah, keluarga Rasulullah belum pernah merasa
kenyang oleh roti gandum selama tiga hari berturut-turut, sampai beliau wafat. (HR.
Bukhari dan Muslim)

Amir bin Qais berkata,

Berhati-hatilah engkau dari banyak makan. Karena hal itu menyebabkan kerasnya
hati.

Abu Sulaiman Ad-Darimi berkata, "Kunci dunia adalah kenyang, sedangkan kunci
akhirat adalah lapar."

Al-Harits bin Kaladah -salah seorang pakar kedokteran Arab pada masa lalu berkata,

"Menjaga diri dari makanan (melebihi yang diperlukan), merupakan pangkal penyakit.

Al-Harits berkata pula,

Yang membunuh manusia dan membinasakan binatang-binatang buas di dunia ini,
ialah memasukkan makanan di atas makanan sebelum selesai pencernaan.

Ibrahim bin Adham berkata,

Barangsiapa memelihara perutnya, akan terpeliharalah diennya (agamanya). Dan
barangsiapa mampu menguasai rasa laparnya, akan memiliki akhlak yang terpuji.
Sesungguhnya, kemaksiatan kepada Allah itu jauh dari seorang yang lapar dan dekat
dengan seorang yang kenyang.

source* dari http://www.pdf-search-engine.com/tautan-hati-pdf.html
Didownload dari http://www.vbaitullah.or.id
*Disalin dari majalah As-Sunnah 09/VII/1424H hal 21 - 26.

Isnin, 16 November 2009

4 Racun Hati ... (2)



2. Banyak Memandang

Yang dimaksud dengan banyak memandang, yaitu melepaskan pandangan kepada
sesuatu dengan sepenuh mata, dan memandang kepada yang tidak halal untuk
dipandang.
Allah berfirman,

"Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, "Hendaklah mereka
menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya"; yang demikian
itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui
apa yang mereka perbuat."

"Katakanlah kepada wanita yang beriman, "Hendaklah mereka menahan
pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah
mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak
dari mereka. Dan hendaklah mereka menutup kain kudung kedada
mereka, dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada
suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-
putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara
mereka, putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera
saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-
budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak
mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum
mengerti tentang aurat wanita.

Dan Janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan
yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-
orang yang beriman agar kamu beruntung." (QS An-Nur: 30 - 31)

Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah bersabda,

"Telah ditetapkan kepada manusia bagiannya dari perzinahan, ia pasti
melakukan hal itu. Kedua mata, zinanya ialah memandang. Kedua telinga,
zinanya adalah mendengar. Lidah, zinanya adalah berbicara, Tangan,
zinanya adalah memukul (meraba). Kaki, zinanya adalah melangkah.
Hati, berkeinginan dan berangan-angan. Dan yang membenarkan atau
menggagalkan semua itu, adalah kemaluan(HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan Ahmad.)

Dari Jarir berkata, Aku bertanya kepada Rasulullah tentang pandangan yang tiba-tiba
(tidak sengaja). Beliau menjawab, "Alihkan pandanganmu."(HR. Muslim, At-Tirmidzi, Ad-Darimi dan Ahmad.)

Berlebihan memandang dengan mata, menimbulkan anggapan indah terhadap apa
yang dipandang dan mepertautkan hati yang memandang kepadanya. Selanjutnya,
terlahirlah berbagai kerusakan dan bencana dalam hatinya, diantaranya:\

1. Pandangan adalah anak panah beracun di antara anak panah Iblis
Barangsiapa menundukkan pandangannya karena Allah, Dia akan memberikan
kepadanya kenikmatan dan kedamaian dalam hatinya, yang ia rasakan sampai
bertemu dengan-Nya.

2. Pandangan merupakan pintu masuk syetan
Sesungguhnya masuknya syetan lewat jalan ini melebihi kecepatan aliran udara ke
ruang hampa. Syetan akan menjadikan wujud yang dipandang seakan-akan indah,
menjadikannya sebagai berhala tautan hati.
Kemudian mengobral janji dan angan-angan. Lalu syetan menyalakan api syahwat,
dan ia lemparkan kayu bakar maksiat. Seseorang tidak mungkin melakukannya
tanpa ada gambaran wujud yang dipandangnya.

3. Pandangan menyibukkan hati, menjadikannya lupa terhadap hal-hal yang
bermanfaat baginya, dan menjadi penghalang antara keduanya.
Akhirnya urusannya pun menjadi kacau. Dia menjadi selalu lalai dan mengakui
hawa nafsunya.

Allah s.w.t berfirman,

"Dan janganlah kamu taat kepada orang yang telah Kami lalaikan
hatinya dari dzikir kepada Kami dan mengikuti hawa nafsunya serta
urusannya kacau-balau." (QS. Al-Kah: 28)

Demikianlah, melepaskan pandangan secara bebas mengakibatkan tiga bencana ini.
Para dokter hati (ulama') bertutur,
Antara mata dan hati ada kaitan yang sangat erat. Bila mata telah rusak
dan hancur, maka hatipun rusak dan hancur. Hati seperti ini, ibarat tempat
sampah yang berisikan segala najis, kotoran dan sisa-sisa yang menjijikkan.
Ia tidak layak dihuni cinta dan ma'rifatullah, tidak akan merasa tenang dan damai bersama Allah, dan tidak akan mau inabah (kembali) kepada Allah.
Yang bersemayam di dalamnya adalah yang berlawanan dengan semua itu.
Membiarkan pandangan lepas adalah maksiat kepada Allah dan dosa, sebagaimana
rmanNya pada Al-Qur'an surat An-Nur ayat 30 dan 31 yang telah disebutkan.

Allah s.w.t berfirman,

"Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat, dan apa yang
disembunyikan oleh hati." (QS Al-Mukmin: 19)

Membiarkan pandangan lepas menyebabkan hati menjadi gelap, sebagaimana menahan
pandangan menyebabkan hati bercahaya.
Bila hati telah bersinar, maka seluruh kebaikan dari segala penjuru akan masuk ke
dalamnya. Sebaliknya apabila hati telah gelap, maka berbagai keburukan dan bencana
akan masuk ke dalamnya, dari segala penjuru.

Seorang yang shalih berkata,

Barangsiapa mengisi lahirnya dengan mengikuti sunnah, mengisi batinnya
dengan muraqabah (merasa diawasi Allah), menjaga pandangannya dari
yang diharamkan, menjaga dirinya dari yang syubhat (belum jelas halal
haramnya), dan hanya memakan yang halal, rasatnya tidak akan meleset.

source* dari http://www.pdf-search-engine.com/tautan-hati-pdf.html
Didownload dari http://www.vbaitullah.or.id
*Disalin dari majalah As-Sunnah 09/VII/1424H hal 21 - 26.

Rabu, 4 November 2009

Empat Racun Hati ( 1 ) ....


Hati yang sehat adalah hati yang selamat. Hati yang selamat didefinisikan sebagai hati yang terbebas dari setiap syahwat, keinginan yang bertentangan dengan perintah Allah, dan dari setiap syubhat, ketidakjelasan yang menyeleweng dari kebenaran.
Maka, barangsiapa menginginkan keselamatan dan kehidupan bagi hatinya, hendaklah
ia membersihkan hatinya dari pengaruh racun-racun itu. Kemudian menjaganya, jangan
sampai ada racun lain yang menggrogotinya.

Adapun jika tanpa sengaja ia mengambil salah satunya, ia mesti bersegera untuk
membuangnya dan menghapus pengaruhnya dengan cara bertaubat, beristighfar dan
mengerjakan amal shalih yang dapat menghapus kesalahan.
Yang dimaksud dengan empat racun hati yaitu:

1. Banyak bicara
2. banyak memandang
3. banyak makan dan minum
4. banyak bergaul dengan sembarang orang

Keempat racun ini merupakan sumber yang paling banyak tersebar, dan paling
berbahaya bagi kehidupan hati.

1. Banyak Bicara


Lidah mempunyai pengaruh yang sangat besar. Keimanan dan kekafiran bisa tampak
melalui lihad (syahadat). Barangsiapa melepaskan tali kendali lidahnya, maka syetanpun akan memperdayanya dari segala penjuru, sehingga menggiringnya menuju tepian jurang, kemudian menjatuhkannya sampai ke dasar.

Dari Mu'adz, dari Rasulullah s.a.w bersabda,

"Dan tiadalah yang menelungkupkan wajah atau batang hidung manusia ke dalam api neraka, melainkan karena ulah lidahnya" (HR. At Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim)

Banyak ayat Al Qur'an dan sabda Rasulullah serta ucapan salafush shalih yang
memperingatkan kita dari bahaya dan kerusakan lidah.

Diantaranya firman Allah s.w.t,

"Tiadalah suatu perkataan pun yang diucapkannya, melainkan ada di
dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir". (QS Qaf: 18).

Dari Sufyan bin Abdillah Ats-Tsaqa berkata,

"aku bertanya, "Ya Rasulullah, apakah yang paling anda takutkan terhadap
diri saya?" Beliau bersabda, "Ini." sambil memegang lidahnya."(HR. At Tirmidzi, Ibnu Majah, Al Hakim dan Ad Darimi)

Dari Uqbah bin Amir berkata,

"Ya Rasulullah, apakah keselamatan itu?" Beliau bersabda, "Peliharalah lidahmu."(HR. At-Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Mubarak)

Beliau bersabda pula,

"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata
yang baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah,

"bahwasanya ia mendengar Rasulullah bersabda,
Sesungguhnya, seorang hamba berbicara dengan sebuah pembicaraan yang
jelas (ia anggap biasa); ternyata hal itu membuat ia tergelincir ke dalam api
neraka lebih jauh dari pada jarak timur dan barat." (HR. Bukhari dan
Muslim)

Dari Abdullah bin Mas'ud, ia berkata,

"Demi Allah, tiada tuhan yang pantas disembah selain Dia. Tiada sesuatu
pun yang lebih pantas untuk dipenjara lebih lama, (kecuali) dari lidahku.

Beliau juga berkata,

Wahai lidah, berkatalah yang baik, kamu akan beruntung. Dan Diamlah
dari yang buruk, (maka) kamu akan selamat, sebelum kamu menyesal."

Dari Abu Darda' berkata,

"Berlakulah adil terhadap dua telinga dari lidah. Dijadikan untuk anda
dua telinga dan satu lidah, supaya anda lebih banyak mendengar daripada
berbicara.
Bencana lidah yang paling ringan yaitu berbicara tentang sesuatu yang tidak berfaidah."

source* dari http://www.pdf-search-engine.com/tautan-hati-pdf.html
Didownload dari http://www.vbaitullah.or.id
*Disalin dari majalah As-Sunnah 09/VII/1424H hal 21 - 26.

Sabtu, 31 Oktober 2009

Empat Racun Hati ...



Empat Racun Hati *
Abdullah Shalih Al-Hadrami
27 Juli 2004

Segala puji hanya bagi Allah. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada
Rasulullah, keluarganya, para sahabat dan para pengikut yang setia sampai hari kiamat.
Amma ba'du. Allah s.w.t. berfirman,

"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai
pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan
hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabnya". (Al-Isra': 36)

Sesuatu yang paling mulia pada diri manusia ialah hatinya. Peran hati terhadap
seluruh anggota badan, ibarat raja terhadap para prajuritnya. Semua bekerja atas
dasar perintahnya dan tunduk kepadanya. Pada kemudian hari nanti, hati akan ditanya
tentang para prajuritnya. Sebab setiap pemimpin itu bertanggung jawab atas yang
dipimpinnya.

Rasulullah s.a.w. bersabda,

"Ketahuilah, di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Bila ia baik, maka baik
pulalah seluruh tubuh. Dan apabila ia rusak, maka rusak pulalah seluruh
tubuh. Ketahuilah, itu adalah hati". (HR. Bukhari dan Muslim)

Abu Hurairah berkata,

Hati adalah raja anggota tubuh. Dan anggota tubuh adalah para
prajuritnya. Apabila raja baik, maka baik pulalah para prajuritnya. Dan
apabila raja busuk, maka busuk pulalah para prajuritnya.

Hati adalah raja. Seluruh tubuh adalah pelaksana semua titahnya yang selalu siap
untuk menerima arahannya. Aktivitasnya tidak dinilai benar, jika tidak diniatkan dan
dimaksudkan oleh sang hati. Pada kemudian hari, hati akan ditanya tentang para
prajuritnya. Sebab setiap pemimpin itu bertanggungjawab atas yang dipimpinnya.
Maka, memperhatikan dan meluruskan hati merupakan perkara yang paling utama
untuk diseriusi oleh orang-orang yang menempuh jalan menuju Allah. Demikian pula,
dengan mengkaji penyakit-penyakit hati dan metode mengobatinya, merupakan bentuk
ibadah yang utama bagi ahli ibadah.

Perumpamaan hati, ialah seperti sebuah benteng. Sedangkan syetan merupakan
musuh yang hendak masuk ke dalam benteng tersebut, hendak menguasai dan
merebutnya. Benteng tidak akan terlindungi, kecuali dengan menjaga pintu-pintunya.
Orang yang tidak mengetahui pintu-pintu itu, tidak akan bisa menjaganya.
Jadi, seseorang tidak bisa mengusir syetan kecuali dengan mengetahui pintu-pintu
masuk yang dilewati syetan. Pintu-pintu masuk itu adalah sifat-sifat manusia yang
jumlahnya sangat banyak. Dan kami akan menyebutkan empat pintu masuk syetan
yang paling banyak tersebar dan berbahaya.

Ketahuilah, hati dapat rusak sebagaimana halnya badan. Dan setiap kemaksiatan
adalah racun hati. Ia menjadi penyebab sakit dan kehancurannya, memalingkan dari
kebaikan dan menambah parah penyakitnya.

Hati adalah pusat ilmu dan ketaqwaan, cinta dan benci, keragu-raguan dan bencana.
Dialah yang tahu tentang Allah, dan jalan menuju kepadaNya. Dan anggota tubuh ini
tidak lain hanyalah mengikuti dan berkhidmat kepadanya.
Para salaf memperoleh kemenangan yang besar dan sangat unggul. Tidak lain karena
kualitas mereka dalam ibadah-ibadah hati. Keistimewaan mereka dalam hal ini tidak
ada tandingannya.

Abdullah bin Mubarak berkata,

Kulihat dosa-dosa itu mematikan hati
Membinasakannya mengakibatkan kehinaan
Meninggalkan dosa adalah kehidupan bagi hati
Selalu menjauhinya adalah yang terbaik bagi anda.

Allah s.w.t. berfirman,

"(yaitu) pada hari harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang yang
datang kepada Allah dengan hati yang selamat". (Asy Syu'ara: 88 - 89)

Bersambung....

source* dari http://www.pdf-search-engine.com/tautan-hati-pdf.html
Didownload dari http://www.vbaitullah.or.id
*Disalin dari majalah As-Sunnah 09/VII/1424H hal 21 - 26.